MENGGALI KONSTRUKSI SOSIAL GENDER DALAM TRADISI NYONGKOLAN PERNIKAHAN MASYARAKAT LOMBOK
Kata Kunci:
Sosial Gender, Ritual Perkawinan, NyongkolanAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi sosial gender dalam tradisi Nyongkolan, sebuah ritual pernikahan adat masyarakat Lombok, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini berfokus pada analisis mendalam terhadap simbolisme kostum, pembagian peran, dan dinamika kekuasaan selama prosesi Nyongkolan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyongkolan bukan hanya perayaan, melainkan sebuah arena simbolis di mana norma dan peran gender secara aktif direproduksi dan ditegaskan. Analisis menunjukkan bahwa pakaian dan aksesoris yang dikenakan oleh mempelai pria dan wanita berfungsi sebagai penanda visual yang membedakan dan menguatkan peran gender ideal dalam masyarakat. Mempelai pria diposisikan sebagai pemimpin yang berkuasa, sementara mempelai wanita digambarkan sebagai sosok yang anggun dan terhormat. Pembagian peran dalam arak-arakan—di mana mempelai pria memimpin di depan secara jelas merefleksikan hierarki patriarki yang ada. Meskipun demikian, penelitian juga mengidentifikasi adanya negosiasi dan resistensi simbolis, terutama di kalangan generasi muda, yang menunjukkan bahwa konstruksi gender bersifat dinamis dan terus-menerus dibentuk ulang. Kesimpulannya, tradisi Nyongkolan berfungsi sebagai cermin budaya yang sangat akurat, merefleksikan dan mengabadikan nilai-nilai sosial tentang peran laki-laki dan perempuan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih kaya mengenai interaksi antara ritual budaya lokal dan pembentukan identitas gender.
