BUDIDAYA SILVOFISHERY DI TELUK SEREWE UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PERIKANAN BERKELANJUTAN
Kata Kunci:
Silvofishery, Teluk Serewe, Mangrove, Budidaya Berkelanjutan, Ekonomi Biru, Empang Parit, Pesisir Lombok TimurAbstrak
Ketahanan pangan dan ekonomi biru di pesisir Indonesia menghadapi paradoks: tingginya permintaan komoditas perikanan justru mendorong degradasi ekosistem mangrove yang menjadi penopang produksi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi, desain optimal, dan kontribusi sistem silvofishery sebagai solusi integratif di Teluk Serewe, Lombok Timur. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan sistematis yang dipadukan dengan analisis spasial sekunder dan sintesis kebijakan. Hasil menunjukkan bahwa 75 ha (60%) kawasan mangrove Teluk Serewe berkategori Sangat Sesuai untuk silvofishery, didukung kondisi hidro-oseanografi yang ideal seperti pasang surut harian ganda, substrat lumpur berpasir, dan kualitas air yang baik (DO 5,8 mg/L, salinitas 20 ppt). Model empang parit dengan komposisi 60:40 (mangrove:kanal) direkomendasikan karena memadukan kepatuhan regulasi dengan optimasi ekologis dan ekonomi. Sistem ini mendukung tiga pilar keberlanjutan: (1) ekologis melalui restorasi fungsional dan biofiltrasi, (2) ekonomi dengan diversifikasi produk (bandeng, kepiting) dan pengurangan ketergantungan pakan hingga 40%, serta (3) sosial melalui penguatan kelembagaan dan kearifan lokal. Implementasi memerlukan pendekatan percontohan, pendampingan teknis, dan integrasi kebijakan. Disimpulkan bahwa silvofishery di Teluk Serewe merupakan strategi penting untuk mengubah siklus degradasi menjadi hubungan saling menguntungkan antara ekosistem sehat dan kesejahteraan masyarakat pesisir.


