ANALISIS DETERMINAN INFLASI DI AUSTRALIA DENGAN METODE AUTOREGRESSIVE DISTRIBUTED LAG (ARDL)
Kata Kunci:
ARDL, Inflasi, Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, AustraliaAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola pragmatik bahasa empatik dalam interaksi konseling serta relevansinya terhadap kesehatan mental peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, khususnya pada layanan bimbingan dan konseling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa empatik dalam interaksi konseling diwujudkan melalui strategi pragmatik seperti pemberian respons afirmatif, penggunaan ungkapan pemahaman emosional, dan penghindaran tuturan yang bersifat menghakimi. Namun, pemanfaatan bahasa empatik tersebut belum sepenuhnya dilakukan secara konsisten dan terstruktur, terutama dalam menghadapi isu peserta didik seperti tekanan akademik dan dinamika relasi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan kesadaran pragmatik bahasa empatik penting untuk meningkatkan efektivitas layanan konseling dan mendukung kesehatan mental peserta didik di lingkungan sekolah menengah atas.Inflasi menjadi aspek penting dalam sebuah perekonomian negara. Tingginya inflasi mengakibatkan berbagai masalah, baik pada tingkat nasional, maupun tingkat internasional. Studi mengenai inflasi perlu dilakukan untuk jangka pendek dan panjang agar menghasilkan kebijakan yang tepat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terkait dengan determinasi inflasi di Australia. Penelitian ini menggunakan variabel inflasi, nilai tukar, dan jumlah uang beredar dari tahun 1986 hingga 2023 yang bersumber dari world bank dengan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang terbentuk ialah ARDL (1,2,0) karena memiliki nilai AIC paling rendah diantara model lainnya. Model tersebut sudah baik karena memiliki probability kurang dari ???? (5%) yang berarti secara bersama-sama variabel-variabel di dalam model dapat memengaruhi inflasi secara signifikan. Selain itu, model tersebut memuat efek kointegrasi yang berarti terdapat hubungan jangka Panjang. Ketika dilakukan permodelan jangka panjang dan jangka pendek, hasil menunjukkan bahwa tidak ada variabel yang berpengaruh signifikan terhadap inflasi ketika jangka Panjang. Sedangkan, hanya variabel nilai tukar di masa lalu yang signifikan memengaruhi perubahan inflasi ketika jangka pendek


