MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, SANTUN, SALIM, SYARI (7S) DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK
Kata Kunci:
Manajemen Pendidikan Karakter, Budaya 7S, Kemandirian Peserta Didik, Budaya SekolahAbstrak
Pendidikan di abad ke-21 menuntut sekolah tidak hanya sebagai lembaga transfer ilmu, tetapi juga sebagai institusi pembentuk karakter dan kemandirian menyeluruh. Di tengah tantangan globalisasi dan degradasi moral akibat media sosial, sekolah memerlukan strategi pembangunan budaya sekolah yang kuat untuk memfasilitasi tumbuhnya nilai karakter dan kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pendidikan karakter berbasis budaya 7S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Salim, Syar’i) dalam membentuk kemandirian peserta didik di UPT SMP Negeri 1 Merakurak dan UPT SMP Negeri 6 Tuban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen budaya 7S dikelola melalui tahapan sistematis: (1) Perencanaan melalui integrasi Standard Operating Procedure (SOP) harian dan RKJM, (2) Pelaksanaan melalui strategi keteladanan, pembiasaan, dan integrasi kurikulum, serta (3) Pengawasan melalui evaluasi restoratif dan buku pemantauan karakter. Implementasi budaya 7S terbukti berkorelasi positif terhadap pembentukan kemandirian emosional, perilaku, dan nilai peserta didik. Unsur "Salim" dan "Syar’i" menjadi penguat dimensi religius yang mendorong tumbuhnya kemandirian moral, di mana siswa mampu mengatur perilaku berdasarkan prinsip ketakwaan tanpa perlu pengawasan ketat. Keberhasilan manajemen ini juga didukung oleh penyelarasan persepsi antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.


