KEBENARAN DI ERA STACKVALISME (Studi Relevansi Perspektif George Berkeley Tentang Persepsi dalam Pencarian Kebenaran)

Penulis

  • Wilfridus Fon Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero Penulis
  • Stefanus Febrianto Raharjo Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero Penulis
  • Filemon Zakarias Saha Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero Penulis
  • Farelus Yugar Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero Penulis
  • Adrianus Yoni Valexsta Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero Penulis

Kata Kunci:

Era Stackvalisme, Kebenaran, Queen of Truth, Persepsi George Berkeley, Berpikir Kritis, Gua Subjektifitas

Abstrak

Tulisan ini merupakan ikhtiar penulis dalam menggumuli kebenaran di era Stackvalisme. Era Stackvalisme diafirmasi sebagai era perang ujung jari. Di era Stackvalisme, semua orang berpotensi menjadi aktor global dalam mempengaruhi publik lewat media di ujung jari. Sebagai konsekuensi logisnya, setiap orang dapat menjadi penerbit, produser film, wartawan, dan seterusnya tanpa sensor. Setiap orang diberi ruang untuk memproduksi berita, menyalurkan informasi, menarasikan sebuah peristiwa, dan membuat konten. Akan tetapi, pembuatan informasi di era Stackvalisme bertendensi artifisial dan superfisial seturut preferensi personal. Kebenaran informasi tidak lagi ditentukan oleh fakta atau argumentasi logis dan rasional, informasi yang berpijak pada akurasi faktual, melainkan ditentukan oleh merit dari media bersangkutan, banyaknya jumlah followers dan likes. Di sini, sensasi lebih berperan aktif ketimbang rasionalisasi dan kreativitas atau tahayul menjadi masuk akal, asalkan sensasional yang dapat memprovokasi sentimen atau emosi publik. Hingga pada titik radikal, publik membaptis media bersangkutan sebagai ‘Queen of Truth’. Berhadapan dengan fakta demikian, penulis akan membaca realitas tersebut dengan perspektif George Berkeley tentang persepsi. Hemat Berkeley, pengamatan ialah source pengetahuan manusia. Akan tetapi, pengamatan yang dimaksudkan oleh Berkeley bukan menyangkut hubungan antara subjek dan objek, melainkan hubungan antara pengamatan indra yang satu dengan indra yang lain. Inilah yang dimaksudkan dengan Persepsi. Pada aras ini, penulis mengandaikan bahwa Berkeley secara tak langsung mendorong setiap orang untuk terbuka terhadap kebenaran. Hal ini terkonfirmasi lewat pengaktifan sikap berpikir kritis dan keluar dari “gua subjektifitas”. Upaya ini berkiblat menghindari publik dari fiksikasi dan monopoli kebenaran.

Diterbitkan

2026-03-26